Jumat, 26 Oktober 2012

Asal Usul ucapan "minal ‘aidin wal faizin”

AQC AZZAHRA. Idul fitri membawa berkah bagi kaum muslimin. setelah 1 bulan berpuasa, tibalah saatnya berlebaran. ada yang khas disetiap hari raya idul fitri, ada ketupat, opor ayam dan kue-kue beraneka rasa dan warna menghiasi meja tamu, baju baru pun seakan menjadi hal “wajib” bagi sebagian orang.
Ada satu kebiasaan (baca: tradisi) yang identik dengan hari raya idul fitri, yaitu ucapan ” minal ‘aidin” dari seseorang yang ditujukan kepada kita, dan biasanya secara spontan kita akan menjawab dengan ucapan ” wal faizin “.
Suatu ketika penulis ditanya oleh anak penulis yang baru 6 tahun ” bapak, koq orang-orang pada nyebutin mas faizin ya? apa yang punya ebaran itu mas faizin ya?”
Pertanyaan yang menggelitik, kalau dirunut kemasa lalu, entah siapa yang memulai ungkapan “minal ‘aidin wal faizin” ini. dua kalimat ini seakan sudah menjadi sejoli, dimana ada ‘aidin disitu ada faizin. apa sebenarnya arti dari kalimat tersebut?
“minal ‘aidin ( bagian dari orang-orang yang kembali ), “wal faizin” ( dan orang-orang yang beruntung). kelihatannya nampak janggal, kalau kita mau menelusuri, ternyata kalimat tersebut dipenggal dari sebuah rangkaian kalimat “

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

” Semoga Allah menjadikan kita dan anda sekalian bagian dari orang-orang yang kembali (fitrah) dan oarng-orang yang beruntung, semoga Allah menerima ibadah dari kita dan anda sekalian. “
Melihat arti dari “minal ‘aidin wal faizin” diatas ternyata bukan mempunyai arti ” mohon maaf lahir batin ” seperti dipahami oleh sebagian orang selama ini.
Dalam buku ” Lebaran Menurut Sunnah yang Shahih ” oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath Thayyar hal. 126 terbitan Pustaka Ibnu Katsir disebutkan :
Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:
“telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “TaqabbalAllohu minnaa wa minkum”. (Fathul Bari (II) 446)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang ucapan selamat di hari raya, beliau menjawab,
“Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan: TaqabbalAllohu minna wa minkum dan A’aadahullahu ‘alaika serta ucapan sejenisnyaa, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad,dll. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmuu’ Fatawa (XXIV/253)

Ucapan mana yang paling baik?

Tentu yang ada riwayatnya seperti disebutkan diatas, apakah pengucapan “minal ‘aidin wal faizin ” itu salah? sepanjang pengetahuan penulis belum ada yang menyalahkan, meski begitu hendaknya dijaga makhroj dari kalimat itu sendiri,jangan sampai kita konyol dalam mengucapkan, misalnya ” minal ‘aizin wal faizin ” atau ” minal ‘aidin wal fa’idin” .
Inilah tradisi kita, konon ucapan "minal ‘aidin wal faizin” itu hanya ada diindonesia.


Wallahu a’lam bisshawab

Kisah Kesabaran Nabi Ismail (Sejarah Hari Idul Adha)

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.

“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).

Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.

Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.

Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.

“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.

“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.

Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.

“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.

“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.

“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.

“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.

“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.

Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”

“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.

“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.

Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”

“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”

Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.

Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”

Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.

Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)

Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta
dengan beberapa perubahan

Selasa, 11 Oktober 2011

TENTANG AL-QUR'AN CENTER AZ-ZAHRA


Sekilas
Pengajian Gratis
Al-Qur’an Center Az-Zahra

Pendidikan Al-Qur’an Center Az-Zahra berada di Kelurahan Kalisari, Pasa Rebo– Jakarta  Timur, didirikan pada tanggal 21 Juni 2005 atas prakarsa dan dukungan berbagai pihak. Kegiatan “Pengajian Al-Qur’an Gratis” ini, dimulai dari pengajian anak-anak di RT 02/09 Kelurahan Baru. Peserta pengajian berawal dari 5 anak yang diasuh langsung  oleh Dian Assafri, SH (Aryan) bersama isterinya, Endah Sri Suparti, yang juga sekaligus selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) Midada Center, Al-qur’an Center Az Zahra pada awal berdirinya mendapat dukungan dari bapak Ibrahim, bapak Nurhadi dan bapak Edi Bagus Hermawan serta bapak Marsono, SH. Sampai sekarang peserta didik sudah lebih dari 100 anak dari 3 Kelurahan (Kelurahan Baru, Cijantung, dan Kalisari) serta memiliki cabang di Bandung Barat, Sukabumi, Lampung dan Tasikmalaya.
Pengajian  Al-Qur'an gratis ini lahir dijiwai oleh rasa prihatin terhadap keadaan masyarakat Islam Indonesia yang masih banyak belum bisa membaca Al-Qur'an.
Dengan pengetahun membaca Al-Qur’an anak-anak mulai merasakan kecintaan terhadap Kitab Sucinya dan diharapkan selanjutnya dapat mendorong mereka untuk mempelajari Al-Qur'an secara lebih dalam dan lebih luas.
Dengan memahami makna kandungan Al-Qur'an diharapkan akan lahir generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam segala gerak tingkah laku kehidupan sehari-hari.

Latihan-latihan ekstra:
Di samping belajar mengaji pada hari Senin, Kamis dan Sabtu, ada kegiatan-kegiatan ekstra antara lain:
  •  Latihan menghapal surat-surat pendek, nama dan nomor surat (Al-Qur'an) dan Asmaul Husna
  •  Hapalan doa-doa harian
  •  Praktek Ibadah
  •  Pidato Kultum (kuliah 7 menit) secara bergilir tiap hari 1 anak menjelang pulang.
  •  Kegiatan berkebun dan taman.
  •  Kegiatan band musik, qashidah yang tergabung dalam group Musik Bintang Kecil.
  •  Latihan interview (wawancara) dan latihan menulis. Tiap anak bertugas mewawancarai orang-orang tertentu seperti Ketua RT, RW, Lurah, Camat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dsb. Hasil wawancara diterbitkan tiap hari Sabtu dalam majalah dinding  “Bintang Kecil Media”
  • Latihan berkoperasi, dalam wadah “Koperasi Kejujuran Az-Zahra”. 
  • Latihan administrasi dalam bentuk penanganan kas keuangan oleh dan untuk anak didik.
  •  Latihan disiplin, kerapihan dan kebersihan, seperti menyusun sandal secara tertib dll.
  •  Latihan olahraga yang tergabung dalam kegiatan olahraga: bulu tangkis, sepak bola, bola voli, senam dan jalan santai ke Graha Cijantung tiap Minggu pagi.
  •  Wisata hati pada waktu tertentu seperti berkunjung  ke Moseum Al-Qur'an, ke Lembaga Pendidikan, ke masjid-masjid, psantren,Tokoh Agama dsb.

Program yang ingin dicapai dalam waktu dekat:
  •  Pelatihan dan praktek Computer dan Internet.
  •  Pelatihan melukis dan kaligrafi Al-Qur'an cat minyak di atas canvas.
  •  Peraktek langsung bahasa Arab dan Inggris (tanpa tulisan).
  • Koperasi Usaha Mandiri

Dukungan Masyarakat dan Pemerintah
      Alhamdulilah, setelah kegiatan ini berjalan selama lebih kurang 5 tahun, dukungan masyarakat terutama di lingkungan Kelurahan Baru, Kelurahan Kalisari, dari Ibu-ibu, Bapak-bapak Wali Murid, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Ketua RT, Lurah dan Camat  sangat positif. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan, ridha, rahmat dan berkah-Nya.

                                          

Dian Assafri SH
Pimpinan Al-Qur’an Center Az-Zahra




 Gerakan Nasional Indonesia
Bebas Baca-Tulis Al-Qur'an tahun 2020
Berbasis Teknologi

        Dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang mengharuskan kita menangkap agar anak-anak pengajian kita tak hanya cukup mengaji saja namun diimbangi dengan berbagai keterampilan atau akrab dengan komputer, internet dan Bahasa Inggris sebagai alatnya.
        Di setiap Kelurahan diupayakan agar terbentuk central pendidikan Al-Qur'an  berbasis teknologi dalam hal ini komputer dan internet untuk usia dini. Yang dalam pelaksanaannya diatur pembagian waktunya untuk menggunakan komputer dan internet tsb secara bergantian yang diikuti oleh semua TPA di setiap kelurahan tsb.
        Dengan program di atas, kami juga mengumpulkan semua pemuda/yang menganggur di Kelurahan tersebut yang mau untuk bergabung dengan jalan kami bina dulu dengan berbagai pelatihan komputer dan pembinaan kewirausahaan dengan berkerjasama dengan pihak Balai Latihan Kerja Depnaker Trans dan para Pengusaha Lokal serta Pihak Kelurahan dalam bentuk pelatihan.

Dengan pembukaan tersebut, diharapkan pemuda/pemudi tersebut dapat menjadi Tenaga Bantu dalam program yang kita jalankan ini. Dengan demikian kita sudah membantu Program Departemen Agama dalam Hal Bebas Buta Baca Tulis Al-Qur'an yang Berbasis Teknologi  Masyarakat Indonesia dan membantu pemerintah (Diknas) dalam arti luas salah satu dengan serta merta menggalakkan masyarakat gemar membaca. Dalam gerakan gemar membaca.
Kesemua program ini kami mulai di Kelurahan Baru, Cijantung dan Kalisari Kec. Pasar Rebo dan akan diteruskan ke kelurahan lain hingga menyeluruh ke berbagai daerah di Indonesia. Sehingga pada akhir tahun 2020 akan tercapailah generasi emas sesuai yang kita harapkan, yaitu Generasi Qur'ani dan punya kemahiran serta akrab dengan teknologi dan mampu bersaing dengan tuntutan zaman yang cepat berubah. Kamajuan teknologi saat ini berkembang luar biasa pesatnya.
Salah satu faktor yang paling berperan dalam era kecanggihan teknologi ini adalah lahir sistem digital. Malalui sistem digital berbagai bidang teknologi mengalami kemajuan luar biasa, seperti bidang komputer, sofware, telekomunikasi hingga penerbangan luar angkasa.
Teknologi Digital manual di Era Modern ini setelah ditemukan bilangan Biner, yaitu angka nol dan satu sebagai sistem tranformasinya. Tak ayal lagi, semua sisi kehidupan manusia ditunjang sepenuhnya  oleh perangkat yang serba canggih dan serba digital. Sangat ironi, ketika semua piranti penunjang segala aktivitas manusia telah begitu  canggih dan modern, ternyata tidak diikuti SDM dan mental manusia penggunanya masih analog (baca : Tertinggal).
Sehingga dapat dibayangkan banyak terjadi ketimpangan dan menyebabkan masyarakat kita semakin tertinggal.
Solusinya tidak tentu dengan mengimbangi aktivitas pengajian anak-anak usia dini dengan teknologi digital tersebut. Manusia yang memilik bilangan Biner sebagai sistem Tranformasi atas potensi spintas akan dapat melahirkan sebuah  peradaban manusia tertinggi yang memiliki kemampuan / IPTEK DIGITAL.
Saat itulah Generasi yang kelak lahir di Bumi yang siap dengan perubahan zaman yang begitu cepat. Perjuangan yang kita lakukan adalah perjuangan lagi hati dan pikiran setiap individu disetiap daerah dan negara di  dunia.
   Rendah minat baca masyarakat dan tidak lagi dijadikannya Al-Qur'an sebagai pedoman dalam keseharian adalah kegagalan kita untuk menjangkau hati dan pikiran setiap orang untuk menjadi masyarakat tentang pentingnya Al-Qur'an sebagai pedoman dan petunjuk bagi kita semua.
Peperangan terhadap buta baca tulis AL-Qur'an dan rendahnya minat baca masyarakat adalah peperangan terhadap hati dan pikiran kita agar kita waspada dan sadar akan pentingnya menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk dengan cara membaca, memahami dan mengamalkan dalam keseharian kita.
Kita harus sadar bahwa ini adalah masalah kita bersama dan dilakukan secara bersama-sama pula karena ini sudah menimpa setiap orang termasuk anggota keluarga kita. Peperangan ini ada di tengah-tengah  kita pada setiap keluarga dan setiap masyarakat.
 Kerena dan saya harapkan, masyarakat Indonesia yang saya cintai dan saya banggakan dapat mewujudkan. Indonesia Bebas Buta Baca Tulis Al-Qur'an tahun 2020 Berbasis Teknologi.



Dian Assafri, SH
Pimpinan Pusat Al-Qur’an Center Az-Zahra



Sekretariat Yayasan Al-Qur'an Center Az-Zahra:
Kantor Pusat     :    Jl. Kalisari Raya No. 20 Rt. 02/03 
                                Kel. Kalisari Kec. Pasar Rebo Jakarta Timur
                                Telp./Fax : (021) 87713316, 0812 82190007
Kantor Cabang :    Bandung Barat, Lampung, Tasikmalaya, Sukabumi dan Garut

Kamis, 02 Juni 2011

ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum. Wr. Wb

Maha Agung Allah Yg Telah Memperjalankan Hamba-Nya Di Waktu Malam Dari Masjidil Haram [MEKKAH] Ke Masjidil Aqsa [BAITUL MAQDIS-PALESTINA] Yg Kami Limpahkan Berkah Di Sekitar Perjalanan Itu, Karena Kami Hendak Mempertunjukkan Kepadanya Ayat Ayat Kami. Sesungguhnya Allah Itu Maha Mendengar Lagi Maha Memperhatikan. QS. Al Isra' ayat 1.


Assalamu'alaikum Wr wb. Para teman2ku khususnya di dunia maya dan tentunya di dunia nyata yg di muliakan oleh 4JJI SWT. Sebelumnya terimakasih kami ucapkan bahwa teman2 telah sudi meluangkan waktu untuk menyimak sajian dari kami yg msh banyak kekuranganya berikut ini


Kita ketahui bersama bahwa di seluruh dunia Islam setiap tahun, padg malam 27 Rajab slalu di peringati kisah Isra Mi'raj. Sebagai kenangan peristiwa bersejarah yg amat penting itu, kalau kita melihat bahwa Isra Mi'raj adalah suatu "perjalanan ilahiyah" yg tiada bandingnya, yg hanya berlaku satu kali didalam sejarah kemanusia'an didunia ini.Tiada pernah ada didalam sejarah kehidupan manusia suatu peristiwa yg berhak untuk dibanggakan dan di kagumi, diagungkan dan di anggap suci sebagaihalnya cerita Isra Mi'raj, yg menjadi Mu'jizat dan lambang kebesaran dan kehormatan bagi NABI dan RASUL yaitu MUHAMMAD SAW. Perjalanan suci ilahiyah itu terjadi pada bulan Rajab, sesudah Nabi Muhammad menjadi Rasul, tetapi beliau belum hijrah ke Madinah. Didalam tahun yg sama dan malam yg sama, yaitu 27 Rajab. Terjadinya perjalanan mulia itu adalah dengan tubuh dan jasmani rohani Nabi yg mulia tanpa berpisah ratu dari yg lain dan di waktu beliau terjaga/bangun. Peristiwa Isra nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina, sesudah itu beliau melakukan Mi'raj dari atas batu yg terapung di Baitul Maqdis dan menuju tujuh lapis langit, tingkat demi tingkat sampai di Sidratul Muntaha yg disampingnya terletak Jannatul Ma'wa [Syurga]. Disinilah Nabi mendengar goresan "Qalam" Illahi dan kalimah Allah disuatu tempat yg tak sanggup kita capai.

Adapun caranya tidaklah sampai pada akal manusia untuk melukiskanya, karena kejadiannya sangat jauh dari jangkauan pikiran, tidak ber-jism dan tidak berbanding. Bersih dari segala contoh perbandingan dengan segala mahluk manusia seperti kita ini pada umumnya. Tetapi kita yakin akan kebesaran Allah Swt. Peristiwa tunggal yg tiada duanya ini di peringati sampai kepada zaman kita sekarang ini. Tapi zaman sekarang manusia telah mengarungi ruang angkasa luas, sudah terjadinya bulan bulanan dan stasion stasion di udara. Ia tetap menjadi perangsangka untuk beriman kepada yg GHOIB, dan menjadi cont�h yg paling tinggi bagi kelemahan manusia berhadapan dengan kodrat Illahi yg Maha Besar lagi Maha Menjadikan, yg segala wujud bertunduk kepada-Nya dengan cepat dari pada yg dapat kita duga dan kira kirakan.

Peristiwa ISRA' meninggalkan pula suatu semboyan yg hidup yaitu "DARI MASJID KE MASJID" yg dalam bahasa jawanya "FROM MOSQUE TO MOSQUE" contohnya ya SAFARI RAMADHAN. Semboyan ini merupakan suatu lambang yg hidup yg menanamkan dihati stiap Mukmin akan perasa'an kesucian pada setiap kali melakukan perjalanan dgn tujuan yg mulia. Baik didalam negeri maupun perjalanan keluar negeri. Disebutkan tempatnya yaitu, yaitu Masjid, tetapi dimaksud perbuatannya dan amalnya, yaitu bersujud. Diceritakan perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, adalah menjadi ibarat bagi suci bersihnya hati dan amal waktu mulai melangkah, dan tetap suci bersih selama dalam perjalanan sampai ketempat yg di tuju, bahkan sampai pulangnya kembali dengan selamat dalam suci bersih jua adanya.
Diwaktu segenap manusia hanyalah mengendarai Onta, kuda atau hewan hewan lainya, Nabi Muhammad SAW sudah dikaruniai oleh 4JJI SWT untuk menaiki KENDARA'AN yg belum ada dizamannya. Kenendara'an yg bernama "BURAQ" itu disebutkan dlm hadits "LANGKAHNYA SEJAUH JAUH MATA MEMANDANG" Ia naik meninggi lalu terbang cepat bagaikan cepatnya anak panah lepas dari busurnya, melampaui bukit2 Mekah dan melintasi padang sahara yg membentang luas, menuju utara dan ditemani oleh MALAIKAT JIBRIL. Berabad abad lamanya perjalanan yg misterius itu tdk dapat dipahamkan orang menurut semestinya. Sekedar beriman bahwa demikian adalah suatu Mu'jizat yg diberikan 4JJI SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi kemudian, stelah melalui percoba'an seorang sarjana penerbang Islam dari ANDALUSIA yg bernama ABBAS BIN FERNAS (190-260 H.) atau (805-873 M.) yg mulai menancapkan kemungkinan "MANUSIA TERBANG". Kemudian Filosofi Islam "IBNU SIENA" membuat cerita fantasi "THE IS ARGUMENT OF THE FLAYING MAN" ini adalah alasan tentang adanya manusia terbang

Setelah itu barulah muncul si TUKANG penghayal besar dari PERANCIS namanya JULES VERNE (1828-1905 M.) dengan buku buku FANTASInya tentang perjalanan ke Bulan dan lainya. Maka akhirnya barulah muncul si WRIGHT bersaudara dari OHIO AMRIK, yg pada tahun 1878 M dgn pembuatan kapal terbang pertamanya dan kemudian di ikuti oleh GRAF VON ZEPPELIN dari JERMAN pada tahun 1900 M. Untuk zaman kita yg modrn skarang ini, tidaklah sulit lagi untuk memahaminya kendara'an "BURAQ" yg dikendarai oleh NABI MUHAMMAD SAW dalam Isra nya pada abad yg telah berlalu itu. Jadi intinya begini, dijaman kita inilah terbukti sudah JANJI JANJI 4JJI SWT yg BERFIRMAN tentang soal kendara'an dan angkutan selain hewan hewan dahulu itu, yg berbunyi:
Dan Allah Pasti Akan Menjadikan (Kendara'an Kendara'an Lain) Yang Kalian Belum Mengetahuinya. [QS. An Nahl : ayat 8.]

Manakala kita membicarakan sebagai contoh, bahwa manusia sudah menginjakkan kakinya ke BULAN, maka harus kita ingat selalu akan PERBEDA'AN yg sangat jauh antara MI'RAJ nya NABI MUHAMMAD SAW yg telah sanggup menembus atau sampai ke LANGIT lapis ke TUJUH. Sementara PERJALANAN para ASTRONOT yg hanya mampu sampai ke BULAN. Sedangkan para ULAMA ULUNG masih mempertanyakan KESANGGUPAN karya wong AMRIK itu yg katanya ASTRONOTnya telah menginjakkan kakinya ke BULAN. Taukah anda seberapa panasnya SUHU di BULAN yg tanpa PEPOHONAN barang secuilpun? Padahal MATAHARI begitu dekat menyinari BULAN. Kita yg tinggal di PLANET BUMI yg TROPIS dan jauh dari MATAHARI saja PANASNYA Na'udzubillahi Minzhalik, apa lagi di BULAN? Manusia zaman sekarang belumlah keluar dari lingkaran setan eh salah, MATAHARI maksudnya. Yg kita hidup di salah satu PLANETNYA yaitu BUMI yg kita pijak ini. Adapun perjalanan NABI, MI'RAJ ke atas langit ke TUJUH sampai ke SIDRATUL MUNTAHA dan sampai ke JANNATUL MA'WA itu telah melewati MATAHARI "SUBHANALLAH ALLAHU AKBAR." Sebagaimana sejarah itu telah di sebutkan didalam "KITAB KITAB SUCI" yg diturunkan kepada para NABI dan RASUL-NYA. Bukanlah langit langit menurut arti yg "LUGHOWY" atau bahasa sehari2, tetapi yg dimaksudkan ialah segala langit yg menjadi tempatnya para "MALAIKAT" dan "ARWAH2" yg suci, suatu alam "MALAKUT" yg tidak mungkin ditempuh oleh MANUSIA dan JIN, kecuali oleh orang yg mendapat KEHORMATAN dari 4JJI SWT untuk memasukinya. Titik puncak perjalanan yg terakhir ialah, Nabi Muhammad SAW diterima menghadap 4JJI SWT untuk melihat Zat-Nya yg Maha Luhur sbagai penghormatan yg terakhir baginya NABI diterima, dan kemudian di beri "AMANAH" untuk segala mahluk, yaitu mengerjakan "SHALAT LIMA WAKTU DALAM SEHARI SEMALAM" yg mana tadinya telah ditetapkan yaitu "LIMA PULUH KALI DALAM SEHARI SEMALAM" mana kita bakal sanggup, yg LIMA KALI dlm sehari semalam aja banyak yg OGAH OGAHAN betul kan?

Alangkah agungnya menghadap 4JJI SWT, itu. Sarjana barat mengatakan "kalo aku jadi Muhammad, dengan diterimanya oleh 4JJI yg Maha Agung itu maka saya tidak akan kembali turun kebumi (DUNIA) ini. Yg penuh dengan segala dosa dan kemaksiatan. Tetapi Rasulullah SAW, bukanlah seorang yg "EGOIS" seperti sarjana barat yg mementingkan dirinya sendiri. Setelah selesai menghadap 4JJI AZZA WAA JALLA, beliau memohon diri untuk pamit kembali turun ke BUMI ketengah tengah masyarakat di jazirah arab yg harus dipimpinnya kejalan Ridho 4JJI SWT. Beliau turun ke Bumi meneruskan misi suci yg ditugaskan oleh 4JJI SWT kepadanya. Beliau membentuk UMMAT baru, dan menjadi Pemimpin Ummat yg dikenal dengan "Ummatan Wasatha" (balance people) yg mencapai kemenangan "Fiddun'yaa waal akhirat" demi untuk kepentingan rohani dan jasmani. Dan semoga kita selalu dalam bimbingan dan syariatnya, menjaga shalat kita sebagai wadah iman dan takwa kita atas kebesaran 4JJI AZZA WA JALLA. Sehingga kita mendapatkan syafa'at-Nya hingga yaumil akhir.. Amiin yaa Rabbal'alamin


Barokallahu Lii Walakum Filqur'anil Adziem Wa Nafa'anii Wa Iyakum Bimaa Fihi Minal Aayati Wa Dzikril Hakim Aquulu Qaulii Hajdza Wastaghfirullahil Adziem Lii Walakum Innahu Huwal Ghofuururrahiim.


Billahi fi sabilil haq, Wassalamu'alaikum Wr wb.

Rabu, 25 Mei 2011

Sejarah Nabi Muhammad SAW


Sejarah Nabi Muhammad SAW

Lagi-lagi sebuah sejarah dilupakan, seakan-akan mereka tidak pernah tahu atau mungkin tidak mau tahu, ini adalah sejarah yang tak boleh dilupakan, karena inilah sebab awal penciptaan dan akhir penciptaan, ia bermula 14 abad yang lalu di sebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi oleh berhala-berhala yang sekarang telah berubah wujud tapi memiliki wujud berhala yang sama. Sungguh tak terpikirkan betapa bodoh manusia zaman itu, ialah sebuah jazirah yang disebut jazirah Arabia, perbuatan buruk dan haram, perampokan, pembunuhan bayi, minum-minuman keras, yang memusnahkan segala kebajikan dan moral menempatkan masyarakat jazirah Arabia ini dalam situasi kemerosotan yang luar biasa. Mereka terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah (bani/kaum).


I.       Kelahiran Sang Nabi
Pada saat yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabiul Awwal (12 Rabiul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya. Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.
Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luar biasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api keabadian di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat(ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah. Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan meletakkannya ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata-kata ini kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.
Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik-baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik-baik hingga kelahirannya.
Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad). Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi gembala domba yang lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya. Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan. Orang bertanya kepada Nabi, Apakah Anda juga pernah menjadi gembala? Beliau menjawab, Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.
Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai orang jujur (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain. Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri ‘Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang.
Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan. Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan  Di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat. Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.
Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.


II.     Pernikahan
Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti   Aliyah sebagai berikut:
“Wahai Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu sudah cukup dewasa!” Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan kehormatan? Nabi menjawab, Apa maksud Anda? Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata, Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda? Nafsiah berujar  Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (Amar bin Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan".
Kemudian Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan. Tentang keponakannya, ia berkata demikian,  Keponakan saya Muhammad bin Abdullah lebih utama daripada siapapun di kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen".
Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya,  Tak ada orang Quraisy yang membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda. Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.
Sang bintang sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak, dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul.
Ketika umur sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke   ka’bah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding   ka’bahmengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun   ka’bahtapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali   ka’bah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut,  Dalam pembangunan kembali   ka’bah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini. Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.
Mari kita kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding   ka’bahtelah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata,Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa. (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru,  Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!
Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah.
Tuhan, Sang Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya menjadi manusia   ilahi. Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak. Sebelum pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan, dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya. Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.
Gunung Hira, puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas peristiwa menyangkut  sahabat karib-nya (Muhammad), gua ini menjadi saksi bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata, disinilah dulu anak Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah. kata saksi bisu.


III.    Diangkat Menjadi Rasul
Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Quran, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hira. Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-quran sebagai berikut
 Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena.
Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafaat. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.
Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah  Khodijah. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril. Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah   Ali.
Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata, Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat).  Lalu beliau menambahkan,  Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?.
Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu.   Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap, Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda. Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali   Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata, Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia".
Pemakluman khilafah (imamah)   Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.
Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran   Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.
Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata, Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya….
Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata,  Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda. Nabi menjawab, Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka. Abu Jahal bangkit sambil berkata,   Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya. Nabi menjawab,Kalian harus mengakui keesaan Tuhan. Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata, Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?
Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,
 Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata],   Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.
Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Muith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab,  Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.
Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Quran, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Quran Allah berfirman
 Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan, Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.
Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syiib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syiib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan   Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya, Ayah, kemana Ibu? Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robiul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.
Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Quran merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,
 Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi   Ali. Kepadanya Nabi berkata,Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.   Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.


IV.     Hijrah
Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak   Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenag,Apa yang terjadi ? Mereka menjawab,Kami mencari Muhammad. Di mana dia? Ali berkata, Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah. Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.
Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabiul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan   Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya   Ali dan rombongannya diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti   Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan Ali berkata  Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah! Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang. Ketika   Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat   Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki   Ali membengkak, air mata Nabi menetes".
Penduduk Yastrib yang kemudian berganti menjadi nama Madinah - menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar   al-washi (  Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah,   Ali mengingatkannya dalam kata-kata   Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya. Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan Ali tidak pernah Absen,   Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan   Ali pada perang Khandaq (parit) disebut juga dengan Ahzab kepada   Amar bin   Abdiwad itu, Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina".


V.       Benteng Khaibar
Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan   Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan   Umar ini.
Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi, Dimanakah   Ali?   Dikabarkan kepada beliau bahwa   Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda, Panggil dia.   Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi. Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata   Ali seraya mendoakannya. Mata   Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi memerintahkan   Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari   Ali melalui jalur khusus, Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi. Seseorang bertanya kepadanya, Apakah Anda merasakan beratnya?   Ali menjawab,Saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke   ka’bahdi Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.


VI.     Fath Makkah
Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.
Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.
Makkah... Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Firaun-firaun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya
Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya.
Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata  ... Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!
Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang –orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Baiat.
Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut semasa hidup Nabi - yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai   Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ?Wahai orang-orang yang ikut baiat al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon...! orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan,  Labbaik, Labbaik... Kami datang, kami datang...!
Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini tidak bisa tidak di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasidan menelitinya kembali.


VII.    Haji Wada
Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqaidah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak... seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu...Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Firaun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa  penguasaitu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim,   ka’bahdan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada Maksud.
Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,Tahukah kalian, bulan apa ini ?
Mereka serentak menjawab,Bulan Haram!.....
...Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya.....
Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.
Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan  Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukurâ€